Selasa, 03 Mei 2011

Sejarah Taman Kota di Bandung (2)

Berdasarkan istilah Belanda saat itu, taman (park) dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain park, plein, plantsoen, stadstuin, dan boulevard. Park adalah sebidang tanah yang dipagari sekelilingnya, ditata secara teratur dan artistik, ditanami pohon lindung, tanaman hias, rumput, dan berbagai jenis tanaman bunga. Selain itu, dilengkapi pula jaringan jalan (lorong), bangku tempat duduk, dan lampu penerangan yang berseni. Kadang kala taman dilengkapi kolam ikan dengan tanaman teratainya, tempat berteduh yang sering disebut "Gazebo" atau "Belvedere", kandang binatang atau unggas dan saluran air yang teratur.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa makna taman bagi Kota Bandung, tak hanya sebagai paru-paru kota atau ruang terbuka hijau (RTH). Banyak catatan sejarah yang dapat digali dari proses pembangunan dan perubahan yang terjadi di taman-taman di Kota Bandung. Beberapa taman yang merupakan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda dan masih dapat kita lihat sampai saat ini adalah Ijzermanpark (Taman Ganeca), Molukkenpark (Taman Maluku), Pieter Sijthoffpark (Taman Merdeka), Insulindepark (Taman Nusantara/Taman Lalu Lintas), dan Jubileumpark (Taman Sari atau Kebon Binatang). Sekitar tahun 1950-an, Presiden Soekarno melarang rakyat menggunakan bahasa Belanda, maka taman-taman kota ini pun diubah namanya ke dalam Bahasa Indonesia.

Pieters Park, kini dikenal sebagai Taman Merdeka atau Taman Dewi Sartika, merupakan taman pertama yang dibangun di Kota Bandung. Taman yang berlokasi di Kompleks Balai Kota Bandung ini dibangun pada 1885, untuk mengenang jasa Asisten Residen Pieter Sijthoff, peletak dasar pembangunan Kota Bandung. Taman dengan luas 14.720 m2 ini dibangun oleh Dr. R. Teuscher, seorang botanikus yang tinggal di pojok Jln. Tamblong. Ia ditunjuk untuk membangun sebuah taman peringatan di depan Gedong Papak (Balai Kota Bandung) yang saat itu menjadi kediaman resmi Asisten Residen Priangan.

Di taman yang berbentuk bujur sangkar itu, berdiri sebuah bangunan berbentuk bulat, yang dahulu digunakan sebagai tempat berteduh dan tempat memainkan orkes musik. Bangunan bulat ini sering disebut sebagai Gazebo atau Belvedere. Taman ini juga sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya tentara yang akan melakukan taptoe atau pawai obor keliling kota. Selain itu, Pieters Park yang dahulu dikelilingi beberapa bangunan sekolah, juga menjadi tempat istirahat para pelajar sambil menghafal bahan pelajaran di siang hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar