Senin, 02 Mei 2011

Sejarah Taman Kota di Bandung (1)

Ketika para perencana taman membangun "mini-botanical garden" di Kota Bandung hampir 80 tahun yang lalu, mereka membangunnya dengan konsep yang jelas. Taman haruslah menjadi sarana efektif mengakrabkan warga kota dengan alam, tempat rekreasi, tempat penelitian, dan tempat belajar mengenai siklus alam. Oleh karena itu, pemilihan jenis tanaman pun disesuaikan dengan kondisi ekologi dan iklim Kota Bandung.

"Kota Taman" atau Tuinstad itulah konsep pembangunan yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda di Kota Bandung pada masa penjajahan. Pemerintah kolonial saat itu ingin menjadikan Bandung sebagai salah satu kota khusus bagi masyarakat Eropa sehingga pada awalnya, pembangunan yang dilaksanakan di Kota Bandoeng (Bandung) saat itu sangat berbau Eropa. Seperti memindahkan Paris atau Amsterdam ke Pulau Jawa.

Namun, usaha ini kemudian mendapat tentangan dari maestro arsitek Belanda, Hendrik Petrus Berlage yang datang ke Kota Bandung tahun 1923. Ia mengkritik bentuk bangunan di Nusantara yang tidak menonjolkan ciri aksen tropis. Kritik Berlage mendapat sambutan dari perkumpulan Bandoeng Vooruit yang awalnya lahir dari organisasi Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken,yang merupakan wadah bagi masyarakat Belanda yang ada di Bandung untuk bermusyawarah.

Ahli-ahli taman perkumpulan Bandoeng Vooruit yang terdiri atas Dr. R. Teuscher, Dr. W. Docters van Leeuwen, dan Dr. L. Van der Pijl, kemudian bersama-sama mencari desain taman tropis untuk Kota Bandung. Konsep taman tropis yang digagas oleh Bandoeng Vooruit saat itu adalah konsep taman terbuka yang bebas dikunjungi warga kota. Taman kala itu harus bisa menjadi wahana efektif guna mengakrabkan kehidupan warga kota dengan alam. Taman terbuka dapat digunakan untuk rekreasi, tempat penelitian, pengenalan jenis flora tropis, maupun untuk studi tentang siklus alam.

Untuk maksud ini, perkumpulan Bandoeng Vooruit selama tahun 1930-1935 berusaha mengubah taman-taman di Kota Bandung menjadi mini botanical garden. Sebagai sarana untuk mengenal dan belajar mengenai tanaman, keterangan nama jenis tiap tumbuhan dituliskan dalam bahasa Latin, Sunda, dan Melayu (Indonesia), pada pelat-pelat alumunium.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar